Laman

Wisata ke Khan El-Khalili, Pasar Oleh-oleh Utama di Mesir

http://tourwisatamania.blogspot.com
Khan el Khalili (sujuegyknow.blogspot.com)
Khan el-Khalili terletak di Kairo, Mesir. Bagi sahabat wisata muslim yang sedang melakukan perjalanan wisata muslim atau umrah plus Mesir di Kairo, kurang lengkap rasanya jika tidak
menyempatkan  diri mampir ke Pasar Khan el-Khalili. Di sini, pengunjung bisa merasakan atmosfer Mesir yang orisinal. Pasar Khan el-Khalili merupakan favorit wisatawan untuk membeli barang oleh-oleh. Bagi sahabat yang ingin dan sedang melakukan perjalanan wisata muslim atau umrah plus Mesir, jangan lupa mengunjungi pasar yang satu ini, Khan el-Khalili.

Wisata ke Menara Eiffel, Gadis Besi dari Paris


http://tourwisatamania.blogspot.com/2013/02/menara-eiffel-gadis-besi-dari-paris.html
Menara Eiffel (www.hdwallpapersinn.com)
Menara Eiffel adalah salah satu obyek wisata terkenal di Paris, Perancis. Bagi sahabat wisata muslim yang ingin menikmati pemandangan cantik kota Paris dari ketinggian, sebaiknya berkunjunglah ke Menara Eiffel. Ya, inilah Menara Eiffel,  menara kebanggaan Perancis berupa sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris.

Laut Mati (Dead Sea), Tempat Rekreasi dan Pengobatan Alami

Laut Mati (Dead Sea) di Yordania (www.fotaisland.ie)
Laut mati (dead sea) memang sudah terkenal sejak zaman dahulu. Sahabat wisata muslim ingin mengapung dan merasakan khasiat lumpur untuk kesehatan dan kecantikan kulit? Tempat yang tepat untuk mendapatkannya yaitu

Wisata ke Burj Khalifa, Dubai

Burj Khalifa, Dubai (www.hdwallpapers.in)
Burj Khalifa adalah nama sebuah gedung pencakar langit di kota Dubai. Bagi wisatawan, nama kota Dubai tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Dubai adalah nama sebuah kota di Uni Emirat Arab, yang terkenal dengan keindahan tata kotanya. Kota ini memang dibangun dengan tujuan menjadi salah satu destinasi wisata dunia yang menarik. Bagi sahabat yang ingin umrah plus wisata ke Dubai, jangan lupa untuk

Aokigahara, Hutan Bunuh Diri di Kaki Gunung Fuji

Aokigahara, Hutan Bunuh Diri di Kaki Gunung Fuji (behance.net)


Gunung Fujiyama juga terkenal dengan salah satu hutannya, yaitu Aokigahara atau hutan bunuh diri. Penamaan hutan seperti ini disebabkan setiap tahunnya ada orang yang melakukan bunuh diri di hutan ini. Meski masih misteri, jumlah korban bunuh diri mencapai ratusan orang. 

Memang, tidak ada yang tahu apa alasan orang-orang tersebut melakukan bunuh diri di hutan Aokigahara ini. Ada dugaan bahwa perilaku bunuh diri di hutan ini terinspirasi dari sebuah novel berjudul Nami no To (Tower of Waves) yang ditulis oleh Seicho Matsumoto pada tahun 1960. Dalam novel itu diceritakan sepasang kekasih melakukan bunuh diri bersama di hutan Aokigahara. Meskipun ternyata bunuh diri sudah ada di hutan ini jauh sebelum novel Tower of Waves dirilis.

Begitu terkenalnya tempat itu sebagai ajang bunuh diri sampai-sampai pihak berwenang memasang papan peringatan di jalur jalan umum berisi sebuah pesan asosiasi upaya pencegahan bunuh diri. Selain itu, kamera pengawas ditempatkan di pintu masuk. Bahkan beberapa polisi juga ditempatkan di kawasan ini. (Jng/RA)

Berikut film dokumenter yang dibuat seorang geologist Jepang, Ayuza Hayano, tentang Aokigahara.

Masjid Muhammad Ali di Mesir: Tandingan Masjid Biru Turki

Masjid Muhammad Ali di Mesir: Tandingan Masjid Biru Turki (famouswonders.com)

Umrah plus Mesir - Sejarah mencatat, selama abad ke-19 M, setahap demi setahap berbagai masalah perkotaan dan pedesaan di Mesir mulai tertata. Jumlah penduduk kota Kairo mulai merangkak naik dan kelas menengah yang berkecukupan pun mulai terbentuk. Di antara kelas menengah tersebut terdapat para tuan tanah dan hartawan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Setahap demi setahap, kota Kairo berubah menjadi

Masjid Ibnu Thulun Mesir, Masjid yang Dibangun dengan Harta Karun

Masjid Ibnu Thulun Mesir, Masjid yang Dibangun dengan Harta Karun (qualitybath.com)

Umrah plus Mesir - Sahabat wisata muslim, jika bepergian ke Mesir, jangan lupa untuk berkunjung ke Masjid Ibnu Thulun Mesir, Masjid yang Dibangun Dengan Harta Karun. Dari beberapa peninggalan sejarah Islam di bumi Mesir, inilah sebuah masjid yang dibangun dengan arsitektur menara yang unik. Begitu pula dengan kisah pembangunannya.

Masjid Ibnu Thulun terletak di jalan Sayidah Zaenab, tepatnya di pertengahan jarak antara Sayiddah Aisyah menuju Sayyidah Zaenab. Masjid ini merupakan masjid ketiga yang dibangun di Mesir setelah Masjid Amr ibn Al-Ash dan Masjid Askar. Masjid Ibnu Thulun dibangun Ibnu Thulun pada tahun 263 H/876 M. Oleh sebab itu, masjid ini menduduki peringkat tertua di Mesir karena sudah berumur lebih dari 1100 tahun. Adapun waktu pembangunannya kurang lebih dua tahun.

Nama Ibnu Thulun diambil dari nama seorang amil utusan kekhalifahan Abbasiyah, Ahmad ibnu Thulun. Pada saat itu, Ibnu Thulun dikirim oleh khalifah Abbasiyah sebagai pegawai untuk memungut pajak di daerah Mesir. Ia pun segera menguasai Mesir. Seiring berjalannya waktu, Ibnu Thulun melihat perangai  para khalifah Abbasiyah yang tidak sesuai lagi dengan ajaran Islam. Ia pun menyatakan berpisah dan mendirikan Negara Mesir yang terlepas dari kendali Abbasiyah.

Ibnu Thulun menjadi raja Mesir Pada tahun 254 H/868 M. Saat itu, ibukota Mesir bernama Askar. Selanjutnya, ibu kota Mesir dipindahkan dari daerah Askar ke Qatahai’.

Ketika itu baru ada dua masjid besar, yaitu Masjid Amr ibn al-Ash dan Masjid Askar. Seiring dengan bertambahnya jumlah pemeluk Islam dan bertambahnya penduduk di sana, Ibnu Thulun pun memandang perlu untuk membangun masjid yang baru. Pada tahun 256 H/879 M, dinagunlah sebuah masjid yang arsitekturnya mirip dengan Masjid Samara di Sammara, Irak.

Kedua masjid ini merupakan masjid benteng yang sama-sama memiliki menara berbentuk spiral. Tidak mengherankan, Ibnu Thulun memang pernah melewatkan masa kecilnya di Sammara, kota indah dan megah yang dibangun Al-Mu’tashim, penguasa ke-8 Dinasti Abbasiyah. Masjid ini terletak sekitar 104 kilometer sebelah utara Baghdad, Irak.

Selain terkenal sebagai ahli strategi perang, Ibnu Thulun juga terkenal dengan kebaikannya. Tak heran jika perilaku hidupnya yang sederhana, ramah, suka membantu, dan patuh beragama membuat rakyat Mesir jatuh hati padanya. Menurut para ahli sejarah, Ibnu Thulun adalah satu-satunya khalifah atau raja Mesir yang tidak pernah meminum arak meski hanya seteguk. Di samping itu, dia lah satu-satunya raja yang mempunyai satu orang istri.

Suatu hari, Ibnu Thulun bermaksud membebaskan rakyatnya dari membayar pajak. Ia lalu berkonsultasi dengan menteri bagian pajak. Namun, apa yang terjadi? Usulnya ditolak sehingga hampir saja ia mengurungkan niatnya.

Pada suatu malam, Ibnu Thulun bermimpi dihampiri oleh seorang lelaki sufi ahli ibadah. Laki-laki itu menyarankan Ibnu Thulun agar tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh menterinya. Dalam mimpi Ibnu Thulun lelaki itu berkata, “Barangsiapa memberikan sesuatu karena Allah, maka Allahlah yang akan menggantikannya dengan lebih baik”.

Kebimbangan pun muncul di benak Ibnu Thulun, antara mengambil pajak atau tidak. Namun, ia tetap memutuskan kebijakannya utuk tidak mengambil pajak.

Beberapa lama kemudian, setelah ia membebaskan pajak kepada rakyatnya, ia pergi berkuda bersama beberapa pengawalnya ke sebuah tempat di dekat gunung. Tiba-tiba kaki kudanya terperosok ke dalam lubang yang ternyata adalah terowongan berisi peti besar. Begitu peti itu dibuka, tampaklah uang sebesar 1 juta dinar!

Ibnu Thulun langsung bersujud syukur dan teringat kembali kata-kata lelaki yang datang dalam mimpinya bahwa Allah akan mengganti apa yang ia berikan. Uang itulah yang kemudian dipakai untuk membangun sebuah masjid dan diberi nama Masjid Ibnu Thulun.

Meski telah mengalami beberapa kali pemugaran, hingga saat ini bentuk asli Masjid Ibnu Thulun Mesir, Masjid yang Dibangun Dengan Harta Karun ini tetap dipertahankan, baik struktur umum maupun detil arsitekturnya. Selain itu, letaknya yang berada di atas perbukitan membuatnya relatif lebih terjaga dari tangan-tangan jahil. Untuk ke sana, kita harus melewati tangga-tangga panjang.

Masjid Ibnu Thulun memiliki luas 162,5 x 161,5 meter atau 26.143 meter per segi. Sementara di tengah-tengahnya terdapat shahn (tempat terbuka) berukuran 92,5 x 91,5 meter, sangat lapang dan memikat pandangan.

Dinding-dinding Masjid ini tinggi menjulang serta dihiasi bukaan-bukaan di seluruh sudut,yang mengitari ruang shalat,dua sayap kanan dan kiri yang masing-masing terdiri dari dua ruangan. Di bagian tengah shahn terdapat sebuah kubah besar yang tampak selaras dengan keindahan shahn. Kubah ini telah mengalami pemugaran dan pembangunan kembali beberapa kali. Adapun kubah yang ada saat ini dibuat oleh Sultan Saifuddin Lancip pada tahun 696 H/1297 M.

Di sisi lain, menara Masjid yang memiliki tangga spiral di bagian luarnya hingga ke puncak. Menara empat lantai tersebut tegak mandiri di sebelah barat masjid. Lantai pertama berbentuk persegi empat, sedangkan lantai kedua, ketiga, dan keempat berbentuk persegi delapan dengan kubah kecil di atasnya.

Nah, bagi sahabat wisata muslim yang suka mengoleksi atau berburu foto unik, jadikan Masjid Ibnu Thulun Mesir, Masjid yang Dibangun Dengan Harta Karun ini sebagai obyek koleksi foto. Selain berwisata, tentunya kita juga bisa mengambil hikmah dari kisah di seputar masjid ini. Selamat berwisata! (RA)

Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin

Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin (egytarek.blogspot.com)



Umrah plus Mesir - Berwisata ke Mesir? Jangan lupa untuk mengunjungi distrik Mesir Lama. Di daerah ini terdapat banyak bangunan historis Islam, salah satunya adalah Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin. Masjid ini disebut juga dengan Masjid Amr Ibnu Ash, yang merupakan bagian dari peringatan dalam sejarah Islam yang mencatat peran besar Amr ibn al-Ash dalam menundukkan Mesir.

Sebelum memeluk Islam, Amr ibn Ash adalah seorang pedagang sukses di kota Alexandaria, yang menjadi pusat perniagaanya. Setelah memeluk Islam pada tahun 18 H/639 M, Amr ibn Ash diangkat oleh khalifah Umar ibn Al-Khattab menjadi Gubernur Palestina dan Yordania.

Pada saat Khalifah Umar melakukan perjalanan terakhir ke Suriah, Amr ibn Ash menunggu kedatangan sang Khalifah untuk membicarakan idenya untuk menguasai Mesir. Menurutnya, Mesir harus ditundukkan agar posisi pasukan kaum muslimin yang telah berhasil menundukan Suriah dan Yordania terlindungi, terutama dengan menundukan kota Alexandria. Hal itu disebabkan Alexandaria merupakan salah satu pangkalan kuat bangsa Romawi yang merajalela di Laut Tengah. Alexandria harus direbut, jika tidak, posisi pasukan kaum muslimin akan selalu menjadi bulan-bulanan angkatan laut Romawi yang menguasai Laut Mediterania.

Awalnya, Khalifah Umar enggan memenuhi permintaan sang jenderal. Menurutnya, penaklukan Mesir belum saatnya dilakukan. Namun, karena Amr ibn Ash mengemukakan idenya berulang-ulang, sang khalifah pun mengizinkannya dengan syarat hanya membawa 4.000 serdadu.

Mendengar keputusan tersebut, betapa gembiranya sang jenderal yang terkenal piawai di medan pertempuran itu. Ia pun segera membawa pasukan dari al-Arisy menuju Farma, yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Romawi yang mencoba menghadangnya, sang jenderal mengarahkan pasukannya ke arah Benteng Babilonia. Benteng pun jatuh, begitu pula dengan wilayah Balbis dan Umm Danin.

Setelah beberapa saat beristirahat di dekat Benteng Babilonia, Amr meminta izin lagi untuk menaklukkan Alexandria, yang pada saat itu menjadi kota metropolis Byzantium yang berkebudayaan Yunani. Begitu izin sang Khalifah diterima, Amr ibn Ash pun menggerakkan pasukan kaum Muslimin untuk mengepungnya. Setelah pengepungan selama 14 bulan, pasukan terdepan yang berada di bawah komando Zubair ibn Awwan dan Maslamah ibn Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota tersebut. Alexandria jatuh pada tahun 20 H/ 640 M.

Usai menaklukkan pasukan Romawi, Amr ibn Ash menulis surat kepada khalifah yang berisi, Saya telah berhasil menundukan sebuah kota di ujung barat. Betapa banyak harta kekayaan kota ini hingga saya tidak kuasa menghitungnya. Di kota ini terdapat tidak kurang dari 4.000 pemandian Yahudi yang siap membayar jizyah dan 4.000 pemain musik dan tarian.

Untuk menhindari serangan balasan pasukan Romawi dari laut, yang masih menguasai berbagai kawasan di luar Mesir, Umar memerintahkan Amr ibn Ash supaya tidak memilih Alexandria sebagai markasnya. Khalifah Umar khawatir jika pasukan kaum muslim mendapat gempuran dari Angkatan laut Romawi, yang kala itu menguasai laut tengah dan berpusat di Konstantinopel. Oleh karena itu, ia membuat kota baru yang bernama Futsthath sebagai ibukota wilayah tersebut.

Kota ke-3 yang dibangun kaum muslimin pada 22 H/643 M, selepas Basrah dan Kuffah, yakni Fusattum, yang semula dijadikan barak militer dan berada pada posisi 4 kilometer dari tepi sungai Nil. Selain itu, sebagai penanda keberhasilan bersejarah tersebut dan meneladani jejak Rasulullah SAW, didirikanlah sebuah Masjid. Inilah bangunan masjid yang kini lebih dikenal dengan Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin.

Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan bangunan ke-4 setelah Masjid Madinah, Kuffah, dan Basrah. Awalnya masjid ini sangat sederhana dengan panjang 25 meter, lebar 15 meter, dan dinaungi atap yang terbuat dari kayu, pelapah kurma, dan batang-batang pohon kurma. Saat itu, arah kiblat tidak sepenuhnya tepat sehingga diluruskan oleh Qurrah ibn Syarik. Masjid ini didirikan di tepi sungai Nil dan hanya memiliki 3 dinding.

Pada tahun 53 H/762 M, Masjid Futsthath direnovasi oleh Musalamah ibn Mukhallad yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Mesir pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Masjid tersebut diperluas dan temboknya dibuat dari batu bata. Selain itu ditambah empat buah menara di setiap sudutnya. Konon, menara-menara tersebut merupakan corak menara yang pertama kali dalam sejarah arsitektur Islam.

Selanjutnya, Masjid Futsthath diperindah oleh Abdul Aziz ibn Marwan, seorang penguasa Dinasti Umawiyyah. Pada tahun 93 H/710M, masjid ini kembali direnovasi oleh Qurrah ibn Syarik sehingga bertambah luas. Kali ini, tembok masjid dibuat menjulang tinggi dan atapnya dibuat dari kayu. Selain itu, beliau juga membuat mihrab berceruk untuk masjid ini. Inilah mihrab yang pertama kali dibuat di Mesir. Selanjutnya, masjid dilengkapi dengan sebuah mimbar kayu yang indah. Pembangunan kemudian diselesaikan oleh Shalih Ali, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin, kembali mengalami renovasi, yang dilakukan oleh Abdullah ibn Thahir, Thughj Al-Ikhsyidi, Khalifah Al-Munthasir, hingga Shalahuddin al-Ayyubi. Setelah itu, renovasi kembali dilakukan oleh Murad Beik pada tahun 1213 H/1798 M dan berujung pada tahun 1342 H/1922 M. Menurut Prof.Dr.Husain Mu’nis dalam karyanya Al-Masajid, saat ini secara artistik Masjid Futsthath merupakan masjid yang sangat selaras dan terpadu. 

Nah, sahabat wisata muslim. Demikian sekilas cerita tentang Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin. Sahabat bisa mengunjunginya saat berkunjung ke Mesir. Untuk paket wisata muslim ke Mesir, sahabat bisa menghubungi Cheria Travel sebagai agen perjalanan Anda. Selamar berwisata! (RA)
SalamHaji.com